Edukasi

Mata Pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial: Panduan untuk Sekolah dan Orang Tua

Koding dan KA kini bisa dipelajari mulai kelas 5 SD hingga SMA/SMK sebagai mata pelajaran pilihan. Ini rangkuman aturan, materi, kebutuhan guru dan sarana, serta tips memulainya.

R Tim Rajonet Diperbarui 6 November 2026 6 menit baca

Mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (Koding dan KA) adalah mata pelajaran pilihan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang dapat diajarkan mulai kelas 5 SD hingga SMA dan SMK. Mata pelajaran ini tidak wajib: sekolah dapat membukanya sebagai pelajaran pilihan, ekstrakurikuler, atau mengintegrasikannya ke mata pelajaran lain sesuai kesiapan guru dan sarana.

Poin penting

  • Koding dan KA berstatus mata pelajaran pilihan, bukan wajib.
  • Alokasi umumnya 2 jam pelajaran per minggu, dan dapat ditingkatkan hingga 5 JP di SMA serta 4 JP di SMK kelas 11 dan 12.
  • Materinya mencakup berpikir komputasional, literasi digital, analisis data, algoritma pemrograman, serta etika dan pemanfaatan KA.
  • Sekolah tanpa komputer atau internet tetap dapat memulai dengan metode unplugged (tanpa perangkat).
  • Menurut Mendikdasmen Abdul Mu'ti pada awal Oktober 2026, baru sekitar 25 persen sekolah yang mengajarkan Koding dan KA.

Mengapa Koding dan KA penting dipelajari

Siswa hari ini tumbuh bersama teknologi yang makin cerdas. Mereka memakai aplikasi, mesin pencari, dan alat AI setiap hari, tetapi belum tentu memahami cara kerjanya. Tujuan utama Koding dan KA bukan mencetak semua siswa menjadi programmer, melainkan membekali mereka dengan cara berpikir yang dibutuhkan di hampir semua bidang.

  • Berpikir komputasional melatih siswa memecah masalah besar menjadi langkah kecil, mengenali pola, dan menyusun solusi secara runtut. Kemampuan ini berguna dalam matematika, sains, hingga kehidupan sehari-hari.
  • Literasi AI membantu siswa memahami bahwa AI bisa keliru, bisa bias, dan perlu diperiksa, sehingga mereka tidak menerima jawaban AI begitu saja.
  • Etika digital membiasakan siswa menghargai privasi, hak cipta, dan kejujuran akademik saat memakai teknologi.
  • Kesiapan masa depan: pemahaman dasar teknologi membuka pilihan studi dan karier yang lebih luas, sekaligus membuat siswa lebih percaya diri menghadapi perubahan.

Status dan jenjang mata pelajaran Koding dan KA

Berdasarkan informasi resmi di laman Koding dan KA Kemendikdasmen, mata pelajaran ini bersifat pilihan. Kementerian juga menyampaikan sedang merevisi regulasi struktur kurikulum agar Koding dan KA tercantum sebagai mata pelajaran pilihan di setiap jenjang.

JenjangKelasAlokasi waktu
SD/MIKelas 5 dan 62 JP per minggu
SMP/MTsKelas 7, 8, dan 92 JP per minggu
SMA/MAKelas 10; kelas 11 dan 122 JP per minggu; dapat ditingkatkan hingga 5 JP
SMKKelas 10; kelas 11 dan 122 JP per minggu; dapat ditingkatkan hingga 4 JP

Kebijakan ini masih berproses di lapangan. Saat membuka Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia pada 2 Oktober 2026, Mendikdasmen Abdul Mu'ti menyebut baru sekitar 25 persen sekolah yang mengajarkan koding dan AI sebagai mata pelajaran pilihan, dan menekankan pentingnya pelatihan guru dengan dukungan perguruan tinggi.

Apa saja yang dipelajari siswa

Materi disusun berjenjang sesuai perkembangan siswa. Laman resmi Kemendikdasmen menggambarkan alurnya sebagai berikut:

  • SD: berpikir komputasional dan literasi digital dasar melalui kegiatan unplugged dan berbasis permainan, misalnya menyusun langkah, mengenali pola, dan memecah masalah.
  • SMP: pemrograman berbasis blok dan pengenalan konsep KA sederhana.
  • SMA dan SMK: pemrograman berbasis teks dan penerapan KA.

Di semua jenjang, siswa juga belajar analisis data dan etika KA: memahami cara kerja AI secara sederhana, keterbatasannya, risiko bias dan informasi keliru, serta cara memakai AI secara bertanggung jawab. Bagian etika ini sama pentingnya dengan keterampilan teknis, karena siswa sudah memakai AI dalam keseharian.

Plugged dan unplugged

Pejabat Kemendikdasmen menjelaskan bahwa pembelajaran dapat dilakukan berbasis internet, berbasis perangkat (plugged), atau tanpa perangkat (unplugged). Sekolah yang belum memiliki listrik atau internet yang memadai dapat memulai dengan metode unplugged, misalnya permainan kartu algoritma, teka-teki pola, atau simulasi cara komputer mengurutkan data.

Kebutuhan guru dan sarana

Siapa yang boleh mengajar

  • Kualifikasi minimal D4 atau S1, disesuaikan dengan ketentuan linieritas yang berlaku.
  • SD: guru kelas atau guru informatika.
  • SMP, SMA, SMK: guru informatika. Bila belum ada, guru yang memiliki sertifikat pelatihan terkait informatika, koding, atau KA dapat mengajar.

Standar minimal sarana

Untuk pembelajaran berbasis perangkat, laman resmi menyebut standar minimal berupa laptop atau PC. Untuk SD, minimal satu perangkat untuk dua siswa bagi setidaknya satu rombongan belajar, dengan prosesor dual core dan RAM 4 GB, serta daya listrik yang memadai. Untuk SMP, SMA, dan SMK ditambah syarat jaringan internet.

Panduan untuk sekolah yang ingin memulai

  1. Petakan kesiapan. Hitung perangkat yang layak, kondisi listrik dan internet, serta guru yang berminat dan memenuhi syarat.
  2. Pilih bentuk pelaksanaan. Mulai sebagai mata pelajaran pilihan di satu jenjang, ekstrakurikuler, atau integrasi ke mata pelajaran lain.
  3. Siapkan guru. Ikutkan guru pada pelatihan resmi dan manfaatkan panduan mata pelajaran yang disediakan kementerian. Bahan pendukungnya dibahas di artikel literasi digital untuk guru.
  4. Mulai dari unplugged bila perlu. Keterbatasan perangkat bukan alasan menunda. Konsep berpikir komputasional bisa diajarkan tanpa komputer.
  5. Atur penggunaan AI. Buat aturan sekolah tentang kapan siswa boleh memakai alat AI dan bagaimana mencantumkannya dalam tugas. Lihat panduan AI di sekolah dan kampus.
  6. Lindungi data siswa. Bila memakai platform daring, pastikan data siswa dikelola dengan aman sesuai prinsip perlindungan data siswa.

Manfaatkan sistem yang sudah ada

Platform pembelajaran daring (LMS) memudahkan guru membagikan materi, mengumpulkan tugas pemrograman, dan memantau kemajuan siswa. Tips memilihnya ada di artikel cara memilih LMS untuk sekolah dan kampus.

Libatkan komunitas dan kampus

Sekolah tidak harus berjalan sendiri. Kerja sama dengan perguruan tinggi, komunitas pengembang lokal, atau alumni yang bekerja di bidang teknologi dapat membantu pelatihan guru, kegiatan klub koding, dan lomba. Mendikdasmen sendiri meminta dukungan perguruan tinggi untuk meningkatkan kompetensi guru.

Panduan untuk orang tua

  • Tanyakan ke sekolah apakah Koding dan KA dibuka sebagai pelajaran pilihan atau ekstrakurikuler, dan di kelas berapa.
  • Dukung tanpa memaksa. Tujuan utamanya adalah melatih cara berpikir logis dan kritis, bukan menjadikan semua anak programmer.
  • Dampingi penggunaan AI. Ajak anak membahas jawaban AI: apakah benar, dari mana sumbernya, dan kapan sebaiknya tidak dipakai.
  • Belajar bersama. Banyak aplikasi pemrograman berbasis blok yang gratis dan menyenangkan untuk dicoba bersama di rumah.
  • Waspadai kursus yang berlebihan janji. Pilih kursus yang menjelaskan kurikulum dan hasil belajar secara jelas, bukan sekadar menjanjikan anak "jago AI" dalam waktu singkat.

Langkah berikutnya

Bagi sekolah, langkah paling praktis adalah memetakan kesiapan guru dan sarana tahun ini, lalu memulai dari bentuk yang paling memungkinkan. Bagi orang tua, mulailah dengan bertanya ke sekolah dan mengenalkan cara berpikir komputasional lewat kegiatan sehari-hari.

Sekolah atau kampus yang membutuhkan sistem pendukung pembelajaran dan administrasi dapat melihat layanan sistem informasi akademik dari Rajonet.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah mata pelajaran Koding dan KA wajib?

Tidak. Koding dan KA berstatus mata pelajaran pilihan. Sekolah juga dapat menyelenggarakannya sebagai ekstrakurikuler atau mengintegrasikannya ke mata pelajaran lain.

Mulai kelas berapa Koding dan KA diajarkan?

Mulai kelas 5 SD hingga SMP, SMA, dan SMK, dengan alokasi umumnya 2 jam pelajaran per minggu. Di SMA dapat ditingkatkan hingga 5 JP dan di SMK hingga 4 JP untuk kelas 11 dan 12.

Bagaimana sekolah tanpa komputer mengajarkan koding?

Dengan metode unplugged, yaitu kegiatan tanpa perangkat seperti permainan kartu algoritma, teka-teki pola, dan simulasi langkah kerja komputer untuk melatih berpikir komputasional.

Siapa yang boleh mengajar Koding dan KA?

Di SD guru kelas atau guru informatika. Di SMP, SMA, dan SMK guru informatika, atau guru lain yang memiliki sertifikat pelatihan terkait informatika, koding, atau KA, dengan kualifikasi minimal D4 atau S1.

Bermanfaat? Bagikan ke rekan yang membutuhkan